Monday 01 September, 2014
Pertumbuhan Industri Properti di Indonesia
Perusahaan itu bakal semakin banyak memasarkan produk properti baru. Proyek baru itu berupa apartemen dan perumahan di sekitar pusat kawasan bisnis alias Central Business District (CBD) di Jakarta, Surabaya, Serpong, Singapura, dan Australia. Di Sydney, Ray White mulai menjual apartemen baru Top Ryde seharga Rp5 miliar – Rp14 miliar per unit. Sampai akhir tahun ini, targetnya bisa menjual 20 unit-30 unit, dan tahun depan harus lebih banyak lagi.Perusahaan itu bakal semakin banyak memasarkan produk properti baru. Proyek baru itu berupa apartemen dan perumahan di sekitar pusat kawasan bisnis alias Central Business District (CBD) di Jakarta, Surabaya, Serpong, Singapura, dan Australia.

Di Sydney, Ray White mulai menjual apartemen baru Top Ryde seharga Rp5 miliar – Rp14 miliar per unit. Sampai akhir tahun ini, targetnya bisa menjual 20 unit-30 unit, dan tahun depan harus lebih banyak lagi. Pemasaran di Singapura juga berbentuk apartemen baru. Targetnya adalah warga Indonesia yang ingin berinvestasi di dua negara itu. Soalnya, banyak warga Indonesia yang kuliah atau bekerja di Singapura dan Australia. Sedang di Indonesia, komposisi penjualan properti baru dan bekas bakal seimbang. Untuk penjualan rumah bekas, Ray White menyasar kalangan atas, dengan produk seharga Rp1 miliar-Rp2 miliar per unit. Penjualan di dalam negeri bakal didominasi dari Surabaya. Sebab, pertumbuhan properti di Jakarta dan sekitarnya sudah tidak besar lagi.

Sementara itu Asosiasi Real Estat Broker Indonesia (Arebi) memperkirakan, nilai pasar properti tahun depan naik 30%-40% dari tahun ini menjadi sekitar Rp220 triliun. Dari jumlah itu, 70% di antaranya berasal dari penjualan properti pasar sekunder. Semua properti bekas dijual oleh para broker. Hal ini akan mendorong pertumbuhan industri broker properti juga. Bisnis properti melekat dengan aktivitas para broker. Jadi, tatkala properti bertumbuh, hal serupa terjadi di industri broker. Arebi meramalkan tahun depan bisnis ini merekah karena pengembang makin mengandalkan broker untuk penjualan properti.

Digambarkan belanja properti tahun 2011 bisa menyentuh Rp170 triliun. Dengan kontribusi 70% datang dari produk bekas. Sebagai contoh, 95% properti di Serpong tahun ini laku di tangan broker. Juga proyek Summarecon di Kelapa Gading yang mengandalkan sedikitnya 100 broker. Kesimpulannya, sekarang ini produk baru juga menjadi lahan broker. Sehingga pengembang menjadi hemat promosi.

Property Advertising:
Promosi dan Iklan produk Property anda di RumahMAX Property Network
Dengan rate yang murah anda bisa mempromosikan perusahaan dan produk property anda dengan tepat.
Hub Kami: tomy@rumahmax.com
Pertumbuhan Industri Properti di Indonesia