Tuesday 26 September, 2017
Arsitektur Masjid Kuno Terpengaruh Budaya Tiongkok
Arsitektur awal mesjid kuno di Jawa sejak abad 15-16, sangat menarik. Banyak teori yang mengatakan bahwa bentuk dari mesjid kuno Jawa ini berasal kebudayaan Hindu-Jawa maupun dari penduduk Jawa sendiri. Tapi jarang sekali tulisan yang membahas tentang peran pertukangan Cina yang sangat besar dalam pembangunan mesjid-mesjid kuno Jawa yang berpusat di pantai Utara Jawa.

Kajian terhadap unsur-unsur Cina dalam khazanah kebudayaan Islam di Jawa tidak hanya dihadapkan pada realitas minimnya data-data sejarah berupa situs situs kepurbakalaan yang tersedia, tetapi juga berhadapan dengan persepsi publik Muslim selama ini yang meyakini bahwa proses islamisasi di Jawa itu datang langsung dari Arab atau minimal Timur Tengah, bukan dari Cina. Kalaupun sebagian mereka ada yang menganggap adanya pengaruh Gujarat-India, namun Gujarat yang sudah ‘diarabkan’. (Qurtuby, 2003:177)

Mesjid kuno di Jawa abad 15 dan 16 mempunyai bentuk yang sangat spesifik. Arsitektur abad ke 15 dan 16 merupakan arsitektur transisi dari arsitektur Jawa-Hindu/Budha ke arsitektur Jawa-Islam. Masa transisi tersebut melahirkan bentuk bentuk bangunan mesjid yang sangat spesifik. Mesjid Kuno Jawa sebagai tempat ibadah kaum Muslim, tentunya sangat erat hubungannya dengan awal masuk dan berkembangnya agama Islam di Nusantara. Dewasa ini ada tiga buah teori tentang awal masuknya Islam ke Nusantara, yaitu :

Pertama, adalah Teori Arab. Teori ini menyatakan bahwa Islam yang datang ke Nusantara, dibawa oleh pedagang yang berasal dari Arab (tepatnya Hadramaut) atau Timur Tengah. Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Crawfurd (1820), Keyzer (1859), Niemann (1861), de Hollander (1861) dan Veth (1878). Crawfurd (1820) menyatakan bahwa Islam datang langsung dari Arab, meskipun ia menyebut adanya hubungan dengan orang-orang ‘Muhamedan’ di India Timur. Neimann (1861) dan de Hollander (1861) menyebut Hadramaut sebagai sumber datangnya Islam.

Kedua adalah Teori India. Teori ini menyatakan bahwa Islam yang datang ke Nusantara berasal dari India. Pelopor mahzab ini awalnya adalah Pijnapel (1872), berdasarkan terjemahan Perancis tentang perjalanan Suleiman, Marco Polo dan Ibnu Battuta, ia menyimpulkan bahwa orang-orang Arab yang bermahzab Syafi’i dari Gujarat dan Malabar di India yang membawa Islam ke Asia Tenggara. Kemudian diperkuat oleh Snouck Hurgronje yang menunjuk Dakka di India Selatan sebagai pembawa Islam di Nusantara. Kemudian Marrison menyebut Koromandel sebagai pelabuhan tempat bertolaknya pedagang Muslim dalam pelayaran mereka menuju Nusantara merujuk dari beberapa ahli.

Ketiga adalah Teori Cina. Teori ini menyatakan bahwa Islam yang masuk ke Nusantara (terutama di Pulau Jawa), dibawa oleh komunitas Cina-Muslim. Teori Cina yang menyatakan masuknya Islam ke Jawa abad ke 15 dan 16, didukung oleh Sumanto Al-Qurtuby (2003), dimana pada abad-abad tersebut disebutnya sebagai jaman Sino-Javanese Muslim Culture dengan bukti di lapangan seperti: Konstruksi Mesjid Demak (terutama soko tatal penyangga mesjid), ukiran batu padas di Mesjid Mantingan, hiasan piring dan elemen tertentu pada mesjid Menara di Kudus, ukiran kayu di daerah Demak, Kudus dan Jepara, konstruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik. Sunan Giri wafat pada th. 1506. Pintu makamnya di Gresik dihiasi dengan ukiran kayu yang sangat indah dengan motif gaya Cina yang kuat sekali.

Arsitektur Masjid Kuno Terpengaruh Budaya Tiongkok