Tuesday 26 September, 2017
Arsitektur Kolonial Di Indonesia
Indonesia adalah mantan negara kolonial Belanda Pengaruh gaya hidup dan karakteristik Belanda Masih tersisa di ratusan Bangunan di sekitar kita. Bahkan masih banyak kantor pemerintahan dan hotel bekas bangunan Belanda. Arsitektur Belanda masih di sekeliling hidup kita. Kota-kota besar seperti Surabaya, Jakarta (terutama di kawasan Kota), Surabaya sedang di berlakukan kegiatan menyelamatkan Culture Heritage ini.

Sampai sekarang pengaruh arsitek Belanda sangat kental, yang mereka turunkan lewat bapak-arsitek Indonesia yang membuahkan karyanya seperti, Y.B Mangunwijaya Pr. (1929-1999),Han Awal (1930- ) lulusan dari Leiden.Soejodi Wirjoatmodjo (1928-1981) yang mendesign gedung iconic MPR/DPR dari arsitek lulusan ITB dan mengenyam pendidikan arsitek melalui beasiswa di Perancis di Ecole Superieure National des Beaux Arts, Paris dan Hoogeschool, Delft, Belanda. Fredrich S Silaban (1912-1984) Academic van Bouwkunst Amsterdam.

Kepedulian akan bangunan era kolonial mulai timbul beberapa tahun terakhir ini di sebabkan oleh karena institusi, Individu dan perusahaan ikut berperan. Kiat Bank Indonesia Surabaya wujudkan kepedulian terhadap bangunan bangunan bersejarah dengan Pencanangan pelestarian dan Pemanfaatan Heritage Bank Indonesia. Program ini menujukan kecintaan, kepedulian dan penghargaan Bank Indonesia terhadap bangunan bersejarah atau heritage yang tersebar di seluruh Indonesia, dimana Bank Indonesia dalam hal ini memiliki beberapa gedung cagar budaya yang sebagian besar merupakan Gedung dengan gaya arsitektur era Belana atau ex. Javasche Bank.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya
Arsitektur Kolonial Di Indonesia