Monday 18 December, 2017
Arsitektur di Bandung
Gaya Arsitektur Indonesia di Kota Bandung

Bandung, Kota ini sempat menjadi laboratorium arsitektur dunia. Hal tersebut dilandasi dengan banyaknya aliran arsitektur dunia yang tampak pada bangunan-bangunan yang ada di kota ini. Mulai dari aliran Indische Empire Stijl hingga aliran art deco yang masih dikenal di Bandung hingga saat ini.

Berawal dari rencana pemindahan ibu kota Hindia Belanda oleh Gubernur Jenderal J.P. de Graaf van Limburg Stirum dari Batavia ke Bandung pada tahun 1915. Bandung dianggap lebih nyaman untuk ditinggali, terlebih sejak seorang ahli kesehatan H. F. Tillema memaparkan makalah yang menyebutkan tentang buruknya sanitasi di kota-kota pantai. Ia juga menyebutkan kalau kelembaban yang tinggi serta suhu yang panas di kota-kota tersebut tidak cocok bagi warga Eropa.

Sejak itu, Belanda mendatangkan banyak arsitek andal dari negaranya untuk membangun dan menata Bandung, ungkap dosen arsitektur ITB, Dr. Dibyo Hartono. Awalnya, mereka membangun pusat militer yang dikonsentrasikan di pusat kota Bandung dan Cimahi. Selanjutnya, dibangun pula pusat pemerintahan yang ditandai dengan pendirian Gedung Sate pada tahun 1920 dan rampung empat tahun kemudian.

Pemerintah Belanda memikirkan sarana rekreasi untuk masyarakatnya. Oleh karena itu, mereka juga turut membangun tempat pemandian umum, bioskop, hotel, dan taman-taman kota dan fasilitas hiburan lainya. Kompleks perumahan untuk para pegawai pemerintahan baru dibangun setelahnya dan berlokasi tak jauh dari Gedung Sate.

Arsitek-arsitek yang berkarya di Bandung terpengaruh dengan gaya arsitektur yang tengah populer di Eropa saat itu. Ialah gaya Art Deco yang mereka usung dan kemudian diterapkan pada bentuk bangunan yang didirikan di Bandung.

Art Deco sendiri baru dikenal di dunia arsitektur pada tahun 1966, saat digelar pameran bertema Les Annes di Paris. Gaya art deco diidentikkan dengan ragam bangunan yang menyertakan dekorasi khusus.

Arsitektur di Bandung