Monday 18 December, 2017
Kharisma Kayu Jati Dalam Interior Rumah
Kayu Jati & Tradisi Masyarakat Indonesia masih kental Ketua Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia (Asmindo) Jepara Akhmad Fauzi mengungkapkan, penggunaan kayu jati milik rakyat sebagai bahan baku produk mebel dan ukir Jepara hingga kini mencapai 90 persen. Sedangkan sisanya, menggunakan kayu jati dari Perum Perhutani yang diklaim harganya cukup mahal dibandingkan kayu jati rakyat, ujarnya di Jepara.

Awalnya, kata dia, suplai bahan baku dari Perum Perhutani, kini mulai beralih menggunakan bahan baku kayu jati milik rakyat karena harganya lebih murah. Selain diperoleh dari wilayah Jawa Timur, katanya, pengusaha mebel di Jepara mendapatkan suplai kayu dari wilayah Kupang dan Sulawesi.

Dengan bahan baku dari kayu jati rakyat, diharapkan produk mebel dan ukir dari Jepara bisa lebih kompetitif di tingkat pasar domestik. Selain itu, produk mebel dan ukir Jepara juga bisa menjangkau level konsumen tingkat menengah bawah yang lebih membutuhkan produk mebel dari Kota Ukir dengan harga terjangkau. Untuk kualitas, katanya, bahan baku kayu jati milik rakyat tetap memiliki kualitas yang standar, meskipun tidak sebagus kayu jati dari Perum Perhutani. Hanya saja, penggunaan bahan baku kayu jati dari Perum Perhutani hanya untuk kalangan menengah atas yang mampu membeli dengan harga yang cukup mahal atau `special price`, ujarnya. Tingkat ketersediaan bahan baku kayu jati, diprediksi hingga akhir tahun tetap tersedia dengan jumlah mencukupi. Bahkan, lanjut dia, saat ini tingkat ketersediaan bahan baku kayu jati milik rakyat maupun Perum Perhutani cukup melimpah.

Untuk menyiasati fluktuasi harga kayu jati rakyat, katanya, pengusaha mebel dituntut kreatif dan inovatif serta mampu menerapkan efisiensi penggunaan bahan baku. Pengusaha biasanya menghadapi kendala dalam menaikkan harga jual produk mebel dan ukir, mengingat banyak kompetitor di pasaran, ujarnya. Menurut dia, pangsa pasar mebel Jepara tidak hanya terfokus pada pangsa pasar ekspor, melainkan pangsa pasar domestik juga menjadi perhatian karena peluangnya masih cukup terbuka lebar. Daripada dimasuki pengusaha asing, lebih baik pengusaha mebel lokal yang menggarap pangsa pasar domestik, ujarnya.

Pangsa pasar mebel Jepara mulai merambah wilayah Indonesia Timur. Perhatian Pemkab Jepara terkait pertumbuhan mebel Jepara di tingkat domestik, katanya, cukup bagus, mengingat beberapa waktu lalu dilakukan kunjungan ke salah satu wilayah tersebut. Terkait dengan tingkat kepuasan konsumen domestik, masyarakat Jawa masih cenderung ke kayu Jati katanya, cukup menggemberikan, mengingat konsumen di sejumlah wilayah mulai fanatik dengan produk mebel dan ukir dari Jepara. Pada kesempatan tersebut, dia juga mengungkapkan, tingkat pertumbuhan ekspor mebel Jepara pada semester pertama tahun 2011 diprediksi meningkat 10 persen dibandingkan tahun lalu. Dan 2012 diharapkan meningkat.
Kharisma Kayu Jati Dalam Interior Rumah